Doa yang Tak Pernah Dikirim

Doa yang Tak Pernah Dikirim

Regina duduk di bangku paling belakang kapel sekolah, seragam abu-putihnya masih rapi, tapi hatinya berantakan. Kelas 12 itu fase liminal—di tengah: belum pergi, tapi sudah harus merelakan.
Di dinding kapel, dekat salib kayu yang warnanya mulai pudar, tertulis ayat yang selalu membuatnya berhenti bernapas sepersekian detik:
“Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau.”
(Mazmur 55:23)
Ia sering bertanya dalam hati: "dipelihara itu maksudnya diselamatkan… atau diajari kuat?"
Misa Jumat Pertama dimulai. Regina menunduk. Ia bukan anak yang merasa paling rohani, tapi ia jujur. Dan kejujuran, menurutnya, sudah cukup sebagai doa awal.
Di barisan depan, Gabriel duduk tegak dengan buku misa di tangan. Regina pernah membaca pengakuan Santo Agustinus di buku renungan sekolah:
“Terlambatlah aku mengasihi Engkau, ya Keindahan yang begitu tua dan begitu baru.”
(Santo Agustinus, Confessiones)
Entah kenapa, kalimat itu mengajarinya satu hal: tidak semua cinta datang untuk dimiliki. Ada yang datang hanya untuk menyadarkan.
“Marilah kita berdoa…”
Regina menutup mata.
Tuhan, aku masih remaja. Masih suka ngira rindu itu hak. Tapi kalau ini bukan untuk kugenggam, ajari aku melepaskan tanpa jadi pahit.
Setelah misa, ia membantu membereskan kapel. Melipat kain altar dengan gerakan pelan, seolah takut melukai sesuatu yang suci.
“Reg,” suara Gabriel lembut. “Kamu capek?”
“Nggak,” jawabnya. “Aku cuma lagi mikir.”
“Aku mau coba seminari,” kata Gabriel, jujur, tanpa dramatisasi.
Regina mengangguk. Dalam kepalanya terlintas ayat yang pernah ia garis bawahi:
“Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
(Matius 6:21)
Ia sadar: hati Gabriel sedang ditarik ke tempat yang bukan miliknya.
“Aku doain,” kata Regina. Kali ini tanpa jeda.
Malamnya, Regina membuka buku doa kecil warisan neneknya. Di halaman yang sudah menguning, tertulis doa Santo Ignatius Loyola:
“Ambillah, Tuhan, dan terimalah seluruh kebebasanku, ingatanku, pengertianku, dan seluruh kehendakku.”
(Doa Suscipe – Santo Ignatius Loyola)
Ia berhenti lama di kata seluruh. Berat, tapi jujur.
Hari-hari berjalan. UN lewat. Perpisahan sekolah tiba.
Di misa perutusan, Gabriel menjadi lektor. Ia membacakan Mazmur dengan suara tenang:
“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
(Mazmur 23:1)
Regina akhirnya mengerti: ia tidak ditinggalkan. Ia sedang diarahkan.
Setelah misa, di halaman gereja, Gabriel berkata,
“Kamu tahu nggak, Reg… kamu salah satu orang yang bikin aku berani denger suara Tuhan.”
Regina tersenyum. “Kalau gitu, doaku nyampe.”
Mereka berpisah tanpa janji. Tapi tidak dengan kosong.
Beberapa bulan kemudian, Regina duduk sendiri di gereja paroki. Ia menyalakan lilin kecil. Kali ini doanya pendek, tapi utuh.
Ia teringat kalimat Santa Theresia dari Lisieux yang pernah dibacakan Romo di misa harian:
“Segala sesuatu adalah rahmat.”
(Santa Thérèse of Lisieux)
Regina mengangguk pelan.
Ia pernah jatuh cinta.
Ia pernah belajar melepaskan.
Dan semuanya—ternyata—rahmat.
Lilin menyala stabil.
Seperti imannya.
Seperti cintanya.
Seperti Regina, remaja yang belajar bahwa mencintai Tuhan kadang berarti merelakan manusia.

Komentar