Andre itu tipe orang yang kalau suka, milih diam.
Bukan karena nggak berani, tapi karena kebanyakan mikir. Ia percaya perhatian cukup buat mewakili perasaan. Jadi ia bolak-balik ke kantin beliin Dara jajan, nungguin selesai kegiatan gereja, nganter pulang tanpa pernah nanya, “Kita ini apa?”
Dara tahu Andre baik. Terlalu baik, malah.
Makanya ia nyaman. Di gereja, Dara sering duduk dekat Andre. Kadang ia manggil Andre “sayang”, katanya cuma bercanda. Andre senyum tiap dengarnya, meski hatinya keburu berharap lebih.
Masalahnya, Andre lupa satu hal: nyaman itu belum tentu cinta.
Suatu pagi, status WhatsApp Dara berubah. Isinya tangkapan layar chat Dara dengan cowok lain. Panggilannya manis, emot-nya kebanyakan. Bahkan ada foto cowok itu—diambil diam-diam—seolah semua orang perlu tahu Dara lagi bahagia.
Andre lihat status itu sendirian.
Nggak marah. Nggak nangis. Cuma ngerasa kosong. Ternyata semua effort yang ia kira cukup, nggak pernah benar-benar sampai.
Anna, teman dekat Dara, paham betul situasinya.
“Kamu suka Dara, kan?” tanyanya pelan.
Andre ketawa kecil. “Iya. Dari lama. Tapi aku keburu takut.”
Di gereja, Andre ketemu Romo Yudi. Ia nggak cerita panjang. Cuma bilang capek.
Romo Yudi menatapnya sebentar, lalu berkata, “Perhatian tanpa kejelasan sering disalahartikan. Bukan karena orang lain jahat, tapi karena kamu nggak pernah bilang.”
Kalimat itu sederhana, tapi kena.
Beberapa hari kemudian, Dara ngajak Andre ngobrol di selasar gereja. Suasananya canggung, tapi jujur.
“Aku minta maaf kalau bikin kamu berharap,” kata Dara.
Andre mengangguk. “Aku juga salah. Terlalu lama diam.”
Anna sengaja berdiri agak jauh, pura-pura sibuk main ponsel, ngasih ruang.
Andre menarik napas panjang. Kali ini bukan buat nahan perasaan, tapi buat ngomong jujur.
“Aku mau jujur,” katanya pelan ke Dara.
“Itu terserah kamu mau punya pacar atau nggak. Aku nggak punya hak buat ngelarang kamu.”
Dara diam, nunggu Andre lanjut.
“Aku cuma mau kamu tahu, aku pernah suka kamu. Beneran. Tapi sekarang aku capek berharap sendirian.”
Nggak ada adegan dramatis.
Nggak ada tangisan tiba-tiba.
Cuma dua orang yang akhirnya berdiri di posisi masing-masing.
Dara mengangguk pelan. “Makasih udah jujur.”
Andre tersenyum. Bukan senyum orang yang berharap dibalas, tapi senyum orang yang akhirnya selesai. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Bukan karena kalah,
tapi karena ia memilih pulang dengan harga diri yang masih utuh.
Dan hari itu, Andre belajar satu hal penting:
kadang, cinta paling dewasa bukan soal memiliki,
tapi soal berani jujur lalu melepaskan—tanpa drama, tanpa paksaan, tanpa pura-pura kuat.
Komentar
Posting Komentar